Indonesia tengah memasuki fase penting dalam transformasi digital. Hal ini terlihat dari meningkatnya penggunaan internet, meluasnya adopsi teknologi digital, bertumbuhnya startup digital, hingga masuknya teknologi ke berbagai sektor kehidupan. Di tengah perkembangan ini, Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) menempati posisi strategis sebagai penggerak utama perubahan sosial, ekonomi, dan kelembagaan.
AI memiliki potensi besar bagi Indonesia. Teknologi ini dapat mendorong produktivitas, memperluas akses terhadap layanan publik, memperkuat pengambilan keputusan berbasis data, dan membuka peluang ekonomi baru. Namun, agar potensi ini bisa dimanfaatkan secara maksimal, Indonesia perlu bergerak cepat dan tepat dalam menetapkan arah kebijakan.
Laporan ini, yang ditugaskan oleh Google dan dikembangkan oleh Public First dengan tinjauan dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), hadir untuk memberikan kontribusi konkret. Laporan ini bertujuan memperdalam pemahaman, mengidentifikasi tantangan, dan menawarkan rekomendasi kebijakan yang relevan untuk pengembangan AI di Indonesia.
Laporan ini selaras dengan arah pembangunan jangka panjang dalam visi Indonesia Emas 2045 yang tertuang dalam RPJPN 2025–2045. Salah satu target besarnya adalah menjadikan Indonesia sebagai negara maju pada 2045. Untuk itu, Indonesia perlu mencapai pertumbuhan ekonomi rata-rata 6–7 persen dalam dua dekade ke depan. Bahkan, pemerintah menargetkan pertumbuhan hingga 8 persen pada 2029. Tantangannya, selama lebih dari satu dekade terakhir pertumbuhan ekonomi kita cenderung stagnan di angka 5 persen. Meningkatkan Total Factor Productivity (TFP) secara signifikan menjadi kunci. Saat ini, TFP Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain yang selevel. AI bisa berperan penting dalam mempercepat kenaikan TFP lewat efisiensi dan optimalisasi di berbagai sektor.
Namun demikian, pengembangan AI tidak lepas dari tantangan besar. INDEF menggarisbawahi tiga tantangan utama yang harus dijawab. Pertama, kesenjangan digital yang masih tinggi. Meski penetrasi internet cukup luas, ketimpangan antara kota dan desa serta antara kelompok ekonomi atas dan bawah masih nyata. Jika pengembangan AI hanya fokus di kota besar, kesenjangan ini bisa semakin melebar. Perlu pendekatan yang inklusif agar transformasi digital tidak memperparah ketimpangan yang sudah ada.
Kedua, kurangnya regulasi yang adaptif dan pengawasan institusional yang terfragmentasi menghadirkan tantangan lain. AI berkembang pesat, tetapi kerangka kerja regulasi belum dapat mengejar ketertinggalan. Meskipun regulasi AI horizontal yang mengikat secara hukum belum ada di Indonesia, pemerintah telah menerbitkan pedoman etika AI sebagai langkah awal yang penting menuju pengembangan dan penerapan teknologi AI yang etis dan bertanggung jawab. Selain itu, AI menghadirkan isu-isu unik dalam industri dan sektor yang teregulasi, dan untuk memastikan kebijakan sektoral yang terkoordinasi dan koheren, penting bagi pemerintah untuk membentuk otoritas tunggal atau pusat keahlian AI yang dapat mendukung dan memberikan arahan strategis kepada regulator sektoral, yang merupakan pihak paling tepat untuk memahami interaksi spesifik antara AI dan kerangka kerja regulasi yang ada saat ini.
Ketiga, minimnya investasi dalam riset dan pengembangan. Indonesia belum menjadi pemain utama dalam teknologi inti AI, dan jumlah startup lokal yang mendapat pendanaan masih sangat terbatas. Sebagian besar investasi masih berasal dari luar negeri. Maka, perlu ada skema pembiayaan khusus untuk mendorong riset dan inovasi AI di dalam negeri.
Untuk menjawab tantangan tersebut, INDEF merekomendasikan tiga fokus kebijakan utama. Pertama, membangun infrastruktur data nasional yang kuat. AI membutuhkan data yang berkualitas, terstruktur, dan mudah diakses. Pemerintah perlu mengembangkan platform Open Data nasional yang bisa digunakan oleh pelaku usaha, peneliti, dan pengembang teknologi—tanpa mengorbankan privasi dan keamanan. Interoperabilitas data lintas lembaga juga harus dijamin, disertai regulasi yang jelas soal tata kelola data, perlindungan data pribadi, akses publik, dan insentif berbagi data.
Kedua, memperkuat sumber daya manusia di bidang AI. Pemerintah perlu menyelaraskan kebutuhan industri dengan output pendidikan dan pelatihan. Kurikulum AI harus diintegrasikan dari pendidikan menengah hingga perguruan tinggi. Pelatihan vokasi dan upskilling tenaga kerja juga harus diperluas. Kolaborasi antara pemerintah, universitas, dan industri dalam bentuk pusat riset AI, inkubator startup, dan program magang perlu diperkuat.
Ketiga, mendorong penerapan AI di sektor publik dan UMKM. Pemerintah harus menjadi pengguna awal AI, terutama untuk meningkatkan efisiensi layanan publik—mulai dari prediksi kebutuhan logistik hingga layanan kepada masyarakat yang disediakan melalui asisten digital. Di sisi lain, UMKM perlu didukung secara teknis dan finansial agar bisa mengadopsi teknologi ini. Kemitraan dengan startup AI lokal juga perlu difasilitasi untuk mempercepat inovasi.
INDEF memandang pengembangan AI sebagai langkah strategis menuju masa depan Indonesia yang lebih inklusif dan kompetitif. Kami mendukung laporan ini karena menawarkan pendekatan yang menyeluruh dan mempertimbangkan dampak sosial-ekonomi secara serius. Untuk mewujudkan potensi AI secara maksimal, dibutuhkan visi jangka panjang dan komitmen yang kuat dari semua pihak.
Kami berharap laporan ini dapat memperkuat diskusi nasional mengenai strategi AI yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan keberlanjutan. Kami mengapresiasi kolaborasi dengan Google dan berharap laporan ini bisa menjadi referensi penting bagi para pengambil kebijakan dalam merumuskan langkah konkret pengembangan AI di Indonesia.
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) adalah lembaga riset independen dan otonom yang berdiri pada Agustus 1995 di Jakarta. Aktivitas INDEF diantaranya melakukan riset dan kajian kebijakan publik, utamanya dalam bidang ekonomi dan keuangan. Kajian INDEF diharapkan menciptakan debat kebijakan, meningkatkan partisipasi dan kepekaan publik pada proses pembuatan kebijakan publik. INDEF turut berkontribusi mencari solusi terbaik dari permasalahan ekonomi dan sosial di Indonesia.
Kecerdasan Buatan (AI) dapat membantu Indonesia mempercepat pembangunan ekonomi. Dengan populasi muda melek teknologi yang telah dengan antusias mengadopsi AI, Indonesia diposisikan untuk meningkatkan keterampilan, mentransformasi organisasi secara digital, dan memajukan rantai nilai dengan AI.
Indonesia berada di urutan terdepan dalam hal adopsi perangkat AI, dengan jumlah pengguna perangkat AI tertinggi kedua di dunia setelah India.
Potensi AI untuk mengakselerasi pembangunan ekonomi dapat melipatgandakan peluang pertumbuhan Indonesia secara keseluruhan.
Lima sektor teratas dengan potensi AI tertinggi adalah ritel dan grosir, manufaktur, keuangan dan asuransi, pertambangan dan penggalian, serta teknologi informasi dan komunikasi.
Meskipun peluang AI sangat besar bagi Indonesia, tantangan yang menyertainya harus diatasi demi meningkatkan adopsi perangkat AI di negara ini. Untuk mengimbangi tantangan tersebut dan mempertahankan kepercayaan pada AI, kita perlu berbuat lebih banyak untuk membantu orang beradaptasi dengan jalur karier baru, memastikan adopsi tersebar luas, dan melindungi dari risiko keamanan potensial baru.
Meskipun mayoritas pekerja Indonesia terlindungi dari substitusi AI, kurang dari 5% pekerja yang berisiko mungkin akan memerlukan bantuan untuk transisi karier.
Meskipun dapat menciptakan risiko baru, AI juga dapat menjadi sekutu keamanan siber yang kuat, yang berpotensi mencegah lebih dari setengah biaya ancaman dan penipuan pada tahun 2035 melalui pencegahan proaktif dan respons yang lebih cepat.
Kami menemukan kesenjangan adopsi yang nyata antar usia, tingkat pendidikan, dan wilayah perkotaan-pedesaan berbeda, yang mungkin akan semakin bertambah tanpa adanya dukungan lebih lanjut.
Indonesia tampil menonjol dengan salah satu potensi jangka panjang tertinggi untuk AI Namun untuk memanfaatkan peluang ini sepenuhnya, Indonesia harus mengatasi tantangan potensial yang dihadirkan oleh teknologi baru tersebut; Indonesia perlu melakukan beberapa hal untuk mengatasi kesenjangan digital, membangun literasi digital dasar serta keterampilan Teknologi Informasi (TI) tingkat lanjut, dan terus membangun konektivitas dan infrastruktur pendukung untuk menutup kesenjangan yang tersisa.
Indonesia memiliki tingkat optimisme tertinggi kedua di seluruh kawasan Asia-Pasifik: 62% warga Indonesia yang kami survei mengatakan bahwa mereka optimis tentang dampak AI terhadap mereka secara pribadi, dibandingkan dengan hanya 13% yang pesimis.
90% pekerja mengatakan kepada kami bahwa mereka tertarik pada pelatihan tambahan untuk membantu mereka menggunakan AI di tempat kerja.
Mendukung peningkatan permintaan komputasi AI memerlukan investasi yang signifikan dalam konektivitas dan infrastruktur pendukung. Selama dekade terakhir, daya komputasi yang dibutuhkan untuk melatih model AI telah meningkat secara dramatis hingga 4 kali lipat dari tahun ke tahun, sementara biayanya telah meningkat lebih dari dua kali lipat.
Transformasi digital yang dimungkinkan oleh AI dapat menjadi sama pentingnya di sektor publik maupun swasta. Bagi negara seperti Indonesia yang mengelola kendala fiskal, adopsi AI merupakan kunci untuk membuka peningkatan efisiensi, transparansi, dan responsivitas pemerintah, yang memberi nilai lebih besar dengan sumber daya yang tersedia.
Selama lima tahun mendatang, lembaga pemerintah dan badan usaha milik negara di Indonesia dapat memperoleh keuntungan dari peningkatan efisiensi dan penghematan biaya sebesar Rp 26 triliun (US$1,6 miliar) melalui penerapan platform dan alat AI tingkat perusahaan.
AI dapat mempermudah penanganan masalah kesehatan yang muncul dengan lebih cepat, yang di Indonesia kami perkirakan dapat membantu menyelamatkan 28.000 jiwa melalui deteksi dini kondisi kronis.
Tutor AI yang terintegrasi ke dalam platform edtech (teknologi pendidikan) dapat membantu 30 juta orang di Indonesia yang saat ini tidak memiliki akses ke pendidikan yang memadai untuk meningkatkan keterampilan mereka.