Memaksimalkan Peluang.

Indonesia menonjol dengan salah satu potensi jangka panjang tertinggi untuk AI di kawasan ini. Namun untuk memanfaatkan peluang ini sepenuhnya, Indonesia harus mengatasi tantangan potensial yang diciptakan oleh teknologi baru tersebut; Indonesia perlu berbuat lebih banyak untuk mengatasi kesenjangan digital, membangun literasi digital dasar serta keterampilan TI tingkat lanjut, dan terus
membangun konektivitas dan infrastruktur untuk menutup kesenjangan yang tersisa.

.1.2.3.4.5

Indonesia memiliki beberapa potensi jangka panjang terbesar dari AI – tetapi masih dalam tahap awal perjalanannya.

Mencermati perjalanan Indonesia dalam memaksimalkan peluang AI, kami mempelajari tiga hal utama:

0

Indonesia optimis tentang AI.

Dalam estimasi perbandingan kami, Indonesia menonjol untuk tingkat optimisme penduduknya dalam mencoba berbagai skenario contoh pengunaan. 62% penduduk Indonesia optimis tentang dampak AI pada diri mereka secara pribadi, dibandingkan dengan hanya 13% yang pesimis. Ini adalah angka tertinggi kedua di seluruh kawasan Asia Pasifik.

0

Kesenjangan infrastruktur telah membaik, tetapi masih membutuhkan perhatian secara terus-menerus.

Akses ke komputasi, daya tahan energi, dan konektivitas semuanya telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, peningkatan permintaan yang terus pesat dan kebutuhan untuk menutup kesenjangan pedesaan-perkotaan yang tersisa akan membutuhkan investasi berkelanjutan.

0

Lebih banyak upaya yang diperlukan untuk membangun lingkungan kebijakan yang mendukung.

Dibandingkan dengan negara lain pada tingkat yang sama, kerangka kebijakan yang lebih luas untuk AI kurang berkembang di Indonesia. Oleh karena itu, memperkuat komitmen pada kerangka kerja regulasi yang pro-inovasi, dan meningkatkan ketersediaan kumpulan data (dataset), akan menjadi langkah-langkah penting berikutnya.

Ringkasan berdasarkan pilar.

Potensi Ekonomi Secara Keseluruhan.

Tingkat Lanjut.

Dalam jangka panjang, Indonesia memiliki salah satu tingkat potensi ekonomi tertinggi dari penggunaan AI.

Adopsi dan Minat.

Tingkat Lanjut.

Indonesia sudah melihat tingkat penggunaan alat-alat masa kini yang tinggi, dan penduduk secara keseluruhan menyatakan optimisme yang signifikan tentang masa depannya.

Infrastruktur.

Sedang Berkembang.

Meskipun telah terjadi kemajuan signifikan dalam peningkatan konektivitas, pusat data, dan pasokan energi dalam beberapa tahun terakhir, lebih banyak investasi masih diperlukan untuk mendukung permintaan di masa mendatang. Pada saat yang sama, negara ini memiliki tingkat investasi Litbang berisiko tinggi yang relatif rendah dalam AI.

Keahlian.

Tingkat Awal.

Indonesia akan membutuhkan keterampilan AI yang jauh lebih maju dan meningkatkan literasi digital masyarakat umum.

Ekosistem Kebijakan.

Tingkat Awal.

Meskipun Indonesia memiliki strategi nasional yang ambisius untuk AI dan ekosistem kebijakan AI yang terus berkembang, pengembangannya masih dalam tahap yang relatif awal.

Untuk memastikan masyarakat memiliki akses ke perangkat AI, diperlukan lebih banyak upaya untuk mengatasi kesenjangan digital di Indonesia.

Agar masyarakat Indonesia dapat memanfaatkan perangkat AI secara maksimal, mereka harus dapat mengaksesnya di mana pun mereka berada dan memiliki kepercayaan diri untuk mengeksplorasinya secara menyeluruh.

Hal tersebut memerlukan upaya untuk mengatasi kesenjangan digital saat ini, yang didorong oleh:

Konektivitas.

Meskipun penetrasi internet telah tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir, masih ada sekitar 80 juta penduduk Indonesia yang tidak memiliki akses ke Internet.6

Kesenjangan perkotaan-pedesaan.

Geografi Indonesia yang menantang – dengan banyak pulau terpencil dan daerah pegunungan – membuat penyebaran infrastruktur menjadi sulit. Hampir setengah dari semua desa di Indonesia (sekitar 48%) masih kekurangan stasiun pemancar basis (BTS) seluler dasar yang diperlukan untuk akses internet​.7

Literasi Digital.

Indonesia saat ini memiliki salah satu tingkat literasi digital terendah di Asia Tenggara, dengan mayoritas penduduk tidak pernah menggunakan e-banking atau layanan kesehatan online.8

Untuk memanfaatkan AI secara maksimal, Indonesia memerlukan keterampilan AI yang lebih canggih.

Sebuah studi Bank Dunia terkini menunjukkan bahwa negara ini akan membutuhkan tambahan 9 juta pekerja dengan keterampilan digital pada tahun 2030. Tanpa pekerja-pekerja ini, perusahaan akan kesulitan menerapkan alur kerja baru yang dibutuhkan untuk memanfaatkan potensi AI secara maksimal.

Memberi kepercayaan digital yang lebih besar kepada masyarakat luas juga penting.

Sebagian besar manfaat dari penggunaan perangkat AI tidak memerlukan keterampilan digital tingkat lanjut, dan sekitar setengah dari potensi manfaat ekonomi dari perangkat AI dapat diperoleh hanya dengan mengadopsi perangkat terkini tanpa reorganisasi bisnis yang lebih luas.9 Dalam jajak pendapat kami, kami melihat peningkatan yang luas dalam pelatihan AI di semua jenis peran pekerjaan.

0%

pekerja mengatakan mereka ingin lebih memahami cara kerja model AI.

0%

ingin mengetahui lebih banyak kasus penggunaan praktis tentang cara menggunakan AI.

0%

berkata bahwa mereka tertarik pada pelatihan tentang cara memberikan perintah kepada model AI untuk mendapatkan respons terbaik.

Untuk mendukung peningkatan kebutuhan komputasi, Indonesia membutuhkan investasi yang lebih besar dalam pusat data dan energi.

Selama dekade terakhir, jumlah daya komputasi yang dibutuhkan untuk melatih model AI telah meningkat sebesar 4 kali lipat dari tahun ke tahun, sementara total biaya untuk melatihnya telah meningkat lebih dari dua kali lipat.10

Di Indonesia, sudah ada lebih dari 90 pusat data,11 dengan ukuran pasar diperkirakan akan meningkat sekitar dua kali lipat dalam lima tahun ke depan.12 Untuk mendukung pertumbuhan ini dan tetap sejalan dengan target energi terbarukan negara ini, investasi yang jauh lebih besar kemungkinan akan dibutuhkan dalam penyediaan energi bersih di negara ini.

Pada saat yang sama, investasi berkelanjutan akan bergantung pada pemeliharaan peraturan pendukung yang memungkinkan aliran data lintas batas yang aman sambil menegakkan prinsip-prinsip perlindungan data yang diuraikan dalam Undang-undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP).

Google Cloud

mendukung transformasi ekonomi.

Tahun 2025 menandai peringatan lima tahun dibukanya region Google Cloud di Jakarta untuk membantu melayani pelanggan di seluruh Asia Tenggara. Dengan mendekatkan teknologi komputasi cloud miliknya kepada pelanggan di wilayah tersebut, wilayah baru ini membantu bisnis yang memerlukan akses ke aplikasi dengan latensi rendah atau untuk menyimpan atau memproses data secara lokal demi alasan kepatuhan atau peraturan. Secara total, kami memperkirakan produk dan layanan Google memberi keuntungan setidaknya Rp 88 triliun (US$5,4 miliar) untuk kegiatan ekonomi di Indonesia pada tahun 2024.

Rp 900 triliun

(US$55 miliar) dalam nilai ekonomi telah ditambahkan ke Indonesia oleh Google Cloud region dari tahun 2020 hingga 2025, yang mendukung rata-rata 92.000 pekerjaan per tahun

Rp 220 miliar

(US$14 juta) dalam biaya perangkat keras, perangkat lunak, dan biaya lisensi di tempat telah dihindari setiap tahun oleh perusahaan besar Indonesia pada umumnya, dengan memigrasikan sistem inti mereka ke Google Cloud.

Dalam lima tahun ke depan, dampak Google Cloud akan terus meluas di seluruh Indonesia.

Rp 1.400 triliun

(US$88 miliar) dalam nilai ekonomi akan ditambahkan ke Indonesia oleh Google Cloud region selama lima tahun ke depan, yang mendukung rata-rata 240.000 pekerjaan per tahun.

Rp 310 triliun

(US$19 miliar) diharapkan akan diperoleh oleh bisnis-bisnis di Indonesia melalui kegiatan ekspor yang didukung oleh Google Cloud ke pasar luar negeri dalam lima tahun ke depan.